Kamis, 19 Mei 2011

cerpen GARIN

Diposting oleh dhita anggrainy di 06.26
sekarang giliran ceritanya si garin, denger gw mau ngepost tu cerpen gw, dia nya gamau kalah,
ckckc, dasar mr.UPIL -______-


beginilah cerita si mr.UPIL


Bisnis Bisnis Bisnis Bisnis

Nama gue Edward Elric, biasa dipanggil Ed. Umur gue udah 17an (kaya hari kemerdekaan RI aja). Dan yang menjadi masalah rutin dalam hidup gue adalah tingg badan. Biasanya tinggi anak-anak usia 17 tahun kira-kira 180cm. tapi tinggi badan gue jauh di bawa standard, gue nggak mau nyebutin tinggi badan gue. Setiap membahas tinggi badan emosi gue selalu nail karena minder dan rada gengsi (maklum gejolak emosi anak ABG). Gue adalh anak pertama dari pasangan Van Hoenheim dan Trisa Elric, adik gue namanya Alphonse Elric, cumin selisih 2 tahun dari umur gue. Cita-cita gue ingin menjadi Young Businessman, yang artinya pebisnis muda. Walaupun masih usia belasan tahun tapi sudah bias berbisnis, menata keuangan sendiri dan membeli keperluan pribadi sendiri, misalnya, bayar kuliah atau uang sekolah, beli HP terbaru, nraktir teman-teman dari uang saku sendiri dan yang pasti tidak membebani keuangan keluarga gue.
Gue ingin hidup mandiri. Nah awal karir bisnis gue dimulai dari SMP, saat duduk di kelas 8, gue bertemu sahabat baru gue namanya Luis. Dia anak pindahan dari SMP di luar kota. Saat gue kenalan dia orangnya baik, ramah, penampilan rada cool dan pintar. Dia duduk tidak jauh dari tempat duduk gue. Singkat cerita gue akhirnya bias dekat sama dia dan menjadi sahabat bersama 2 teman gue yang lain, Rot dan Alex. Nah jadi lah empat sekawan dengan 2 kurcaci dan 2 raksasa, karena dulu gue dan Luis postur badannya sama lalu Roy dan Alex berbadan tinggi gede. Kemana-mana kami selalu berempat, ke kantin, ke kropasi sekolah selalu bersama, tapi nggak mungkin ke wc sama-sama dan yang pasti kami bukan sekawanan homoria. Nah beberapa bulan kemudian Luis menawarin gue suatu bisnis yang luamyan menguntungkankan, yaitu “Jualan Pulsa”. “Jualan pulsa? Emang bias dapat untung?” Tanya gue pesimis. “Bisa dong, tidak ada yang tidak mungkin, asal lu bener-bener dan serius menjalaninnya, pasti sukses nanti.” Sahut Luis dengan kata-kata bijaknya.

Sebelumnya Luis juga sudah merekrut Alex masuk dalam grup bisnis pulsanya dan Alex pun menerimanya dengan sukacita (loh?). merasa nggak mau kalah dan dengan dorongan ambisi bias meraup untung banyak (amin, do’akan ya teman-teman) gue terjun ke bisnis ini.
“Ok, gue ikut bisnis lu.” Ujar gue. “sip dah.” Kata Luis sambil mengotak-atik HPnya dan mendaftarkan gue sebagai keanggotaan dalam grup dia. Daftarnya juga mudah, cukup SMS dengan format nama lengkap, no.HP dan dikirim ke rumah sakit terdekat, lho? yang benar nomor HP keagenan grup. Dan akhirnya bergabunglah gue dalam grup tersebut. Mulai lah petualangan karir dadakan bisnis kecil-kecilan gue. Gue mulai promosi di dalam kelas dulu, muali deh tebar promosi kalau gue jualan pulsa dan kalau ada yang kehabisan pulsa, tinggal kontak aja gue. Segala usaha udah gue keluarin, termasuk keringat gue dan teman-temannya, dan itu sangat membantu gue dalam berbisnis jualan pulsa. Gua biasanya beli saldo sama Luis, paling-paling isi 50.000 udah cukup untuk melayani pembelian pulsa. Dan hasil bisnis gue kasi ke Luis soalnya gue ngutang saldo sama dia. Lumayanlah dapat 2-5% dari penjualan masuk ke kantong uang jajan. Walaupun untung dari penjualan pulsa tersebut kecil, tapi semua yang kita lakukan pastilah dari yang paling kecil. Langkah demi langkah telah gue jalanin semuanya, berbagai macam masalah pun datang menghampiri, dari yang besar maupun kecil. Tapi semua bias diatasi. Beberapa bulan udah gue jalanin usaha bisnis jualan pulsa ini. Gue jadi terbiasa dengan istilah “hutang-piutang”. Rata-rata setiap anak-anak yang beli pulsa sama gue mereka pada ngutang, malah ada yang sampai puluhan ribu. Si Ningsi namanya, hampir tiap hari dia beli pulsa sama gue, sampai-sampai lupa kalau saldo gue udah habis. Walaupun begitu gue sih senang-senang aja ada pelanggan tetap meski ditumpuk dulu hutangnya.
Terus teman gue yang lainnya Selim yang biasa beli pulsa gue. biasanya di beli 5000an sama gue. tapi bukan itu yang jadi masalahnya. Masalahnya adalah dia lama banget bayarnya. Ngutang cuman 5000 tapi nunggu dia bayar bisa-bisa sampai 2 bulan baru di bayar.
Begitulah. Tapi gue easy going aja, tidak ambil pusing-pusing amat sama pembayarannya. Tapi tetap gue tagih tuh anak. Maklumlah keuangan setiap anak-anak pasti berbeda. Sama seperti gue pas-pasan hidupnya. Eits, walaupun pas-pasan tapi buka usaha yang bakal menjanjikan dan mungkin bisa merubah hidup gue (jadi makin pas-pasan). Jangan deh. Yang pasti jadi meningkatkan taraf hidup gue (amin).
Perlahan tapi pasti pelanggan gue sudah merambah ke luar kelas. Salah satunya Afri. Teman gue yang satu ini memang tukang menghabisin pulsa, ribuan mungkin puluhan ribu pulsanya bisa habis dalam sekejap. Entah apa yang dia lakuin tapi tipe kaya orang inilah yang jadi incaran gue untuk menjadi pembeli. Yups tiap hari ada saja tampang dia muncul di hadapan gue. Kemudian, cewek cantik teman sekelasnya Afri namanya Angel. Yap, cewek incaran Roy ini pernah jadi pelanggan gue sampai akhirnya Angel pindah ke Luis lantaran gue udah jarang mengisi saldo. Mau gimana lagi, tapi gapapalah, hilang satu tumbuh seribu. John dari kelas C yang jadi teman akrab di tempat les gue bareng ketiga sahabat gue, plus di tambah Mustang, Ningsi, Dianda dan Rockbell, kami semua pada les pada guru matematika dan sains di sekolah, Riza Hawkeye namanya dan biasa dipanggil Mam Riza. Banyak hal-hal lucu terjadi di sana, banyak tawanya dibanding belajarnya, tapi kami asik-asik aja. Nah, disinilah otak gue kembali bereaksi. “Bagaimana kalau kita promosi aja usaha kita di sini?”. Otak gue ngirim sinyal-sinya ke tubuh gue. “Betul banget tuh kalau begitu tunggu apa lagi!”. Hati gue membara. Setelah semua anggota tubuh gue kompak. Nah mulailah gue berceramah ke adik-adik kelas gue yang kebetulan les disana juga. Mulanya gada yang merespon tentang ceramah gue namun beberapa hari kemudian adik kelas gue yang pertama menjadi pembeli adalah Justin. Dengan suka cita gue menerima permintaannya, dan hasilnya Justin menjadi pembeli tetap gue dan diikuti teman-temanya juga.
Go A Head. Kata-kata itulah yang terus melayang-melayang di benak pikiran gue yang menjadi pelecut semangat gue. Yups. Enam bulan sudah gue jalanin usaha ini dan keuntungannya cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari gue. Gue semakin percaya diri dengan apa yang telah gue lakukan. Dan semua itu sangat berarti buat gue sebab gue mendapat pelajaran-pelajarn penting disana. Dan apa yang gue cita citakan mungkin bisa terkabul, teruslah melangkah ke depan dan jangan sekali-kali melihat ke belakang sebab kita akan terhenti disana dan kita bakal tertinggal jauhnya. “Keep Moving Forward”.

0 komentar:

Posting Komentar

 

dhita's zone Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei